Lalu bintang itu berhenti berkedip, kenapa
malu-malu ia mengintipku bercengkrama dengan malam, ternyata.
Bisik merisik mendelik-delik, ohhhh malam ini tak ada yang punya
kecuali, aku yang telah lelah terbaring lemah
Sampailah sampai sayanglah sayang, dipuncak langit yang paling tinggi
bulanpun enggan berikan benderangnya, manakala tiup angin yang mensurgakan menerpa sekujur kemeringan
kelamlah kelam dalam temaram..
sayup-sayup ia mendengarkan, rupanya.
Desah malam yang resah, terjerat hasrat berkarat,
Sang Kelam memenjara dendam diperantara
Ampunlah minta ampun, Tak kan aku sanggup berdegup
Tak aku kan tahan bertahan, tak akan aku kuat memahat,
tak aku kan
bukan penyair murahan bukan, tapi tiap rangkai kata semakin membuat tak kuasa,
sayang biduanda kampung sayang, namun rintih desah membuat pedih pasrah
Bukan penari lah itu kalau tak kala ternampak liukkan tubuh, bukan
Tapi...aku sudah tenggelam kala itu, sangat dalam
untung keduanya tak tau,
Bintang yang tak lagi berkedip, bulan yang redup tak menderang,
Hanya hawa-hawa sajalah sedangkan sudah menggelora
Padahal keindahan itu baru saja usai..malampun berhenti mendesah
berkatalah malam itu diakhir ceritanya
"dalam resah aku basah, dalam pasrah aku sudah, dalam gundah aku indah"
Kita orang yang paling menikmati, meskipun udang hanya tinggal tampak ekor,
lalu lumat.....by ibl_tnbrnk
hehehe, pertamanya aja sok
Padahal dari awal sudah berdebar
ini aku rasakan betul, padahal jauhan
Kita akan menitinya sampai jauh kan
5/8, malam saat kita menyelesaikan perkara dalam tulisan, gambar serta suara antara Dumai-Pekanbaru.
Kabut Asap, Kita Belum Bisa Pulang, Nak
10 years ago
0 comments:
Post a Comment